MENGENAL KERAJAAN KEDIRI DALAM ASPEK SOSIAL, EKONOMI, POLITIK, DAN KEBUDAYAAN
Indonesia memiliki letak geografis yang strategis karena diapit oleh dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudra (Pasifik dan Hindia). Karena itu, sejak dulu Indonesia sudah masuk dalam rute perdagangan dunia. Banyak kerajaan di Indonesia pada masa Hindu-Buddha yang mencapai masa kejayaannya sebagai kerajaan maritim.
Sejarah kerajaan Kediri merupakan salah satu kerajaan Hindu yang terletak di tepi Sungai Brantas, Jawa Timur. Kerajaan yang berdiri pada abad ke-12 ini merupakan bagian dari Kerajaan Mataram Kuno. Raja pertamanya bernama Shri Jayawarsa Digjaya Shastraprabu yang menamakan dirinya sebagai titisan Wisnu.
kerajaan Kediri atau Kediri atau panjalu, adalah sebuah kerajaan yang terdapat di Jawa timur antara tahun 1042 sampai 1222. Kerajaan ini berpusat di Dahanapura yang menjadi bagian kota Kediri sekarang. S
1. Aspek Politik
2. Aspek Kebudayaan
Kondisi masyarakat Kediri sudah teratur. Penduduknya sudah memakai kain sampai di bawah lutut, rambut diurai, serta rumahnya bersih dan rapi. Dalam perkawinan, keluarga pengantin wanita menerima maskawin berupa emas. Orang-orang yang sakit memohon kesembuhan kepada dewa dan Buddha.
Perhatian raja terhadap rakyatnya sangat tinggi. Hal itu dibuktikan pada kitab Lubdaka yang berisi tentang kehidupan sosial masyarakat pada saat itu. Tinggi rendahnya martabat seseorang bukan berdasarkan pangkat dan harta bendanya, tetapi berdasarkan moral dan tingkah lakunya. Raja juga sangat menghargai dan menghormati hak-hak rakyatnya. Akibatnya, rakyat dapat leluasa menjalankan aktivitas kehidupan sehari-hari.
Pada masa pemerintahan Kameswara juga ditulis karya sastra, antara lain sebagai berikut.
- Kitab Wertasancaya, yang berisi petunjuk tentang cara membuat syair yang baik
- Kitab Smaradhahana, berupa kakawin yang digubah oleh Empu Dharmaja. kita ini berisi pujian kepada raja sebagai titisan dewa kama. kitab ini juga menyebutkan bahwa nama ibu kota kerajaannya adalah Dahana
- Kitab Lubdaka, ditulis oleh Empu Tan Akung. kitab itu berisi lubdaka sebagai seorang pemburu yang mestinya masuuk neraka. karena pemujaannya yang istimewa, ia ditolong dewa dan rohnya diangkat ke surga.
Selain karya sastra tersebut, masih ada karya sastra lain yang ditulis pada zaman Kediri, antara lain sebagai berikut.
- Kitab Kresnayana, karangan Empu Triguna yang berisi riwayat Kresna sebagai anak nakal, tetapi dikasihi setiap orang karena suka menolong dan sakti. Kresna akhirnya menikah dengan Dewi Rukmini.
- Kitab Samanasantaka, karangan Empu Managuna yang mengisahkan bidadari Harini yang terkena kutuk Begawan Trenawindu.
Adakalanya cerita itu dijumpai dalam bentuk relief pada suatu candi.
3. Aspek Ekonomi
Strategi kepemimpinan Prabu Jayabaya dalam memakmurkan rakyatnya memang sangat mengagumkan (Gonda, 1925 : 111). Kerajaan yang beribukota di Dahanapura bawah kaki Gunung Kelud ini tanahnya amat subur, sehingga segala macam tanaman tumbuh menghijau. Pertanian dan perkebunan hasilnya berlimpah ruah. Di tengah kota membelah aliran sungai Brantas. Airnya bening dan banyak hidup aneka ragam ikan, sehingga makanan berprotein dan bergizi selalu tercukupi.
Dalam kehidupan ekonomi diceritakan bahwa perekonomian Kediri bersumber atas usaha perdagangan, peternakan, dan pertanian. Kediri terkenal sebagai penghasil beras,menanam kapas dan memelihara ulat sutra. Dengan demikian dipandang dariaspek ekonomi, kerajaan Kediri sudah cukup makmur. Hal ini terlihat dari kemampuan kerajaan memberikan penghasilan tetap kepada para pegawainya walaupun hanya dibayar dengan hasil bumi.